Koleksi Sambil Berinvestasi

Dikutip dari Kontan, 15 Februari 2008

Suasana mall sore itu seperti biasa ramai. Biasalah di saat jam pulang kantor, sebagian mungkin ada yang menunggu waktu yang tepat untuk pulang karena macet, sebagian lagi mungkin memang sudah berencana untuk sekedar menghilangkan jenuh dengan berjalan di mall, dan sebagian lagi mungkin seperti saya sedang membuat janji temu. Ya, hari itu saya sedang ada janji temu dengan seorang klien yang kebetulan seorang dokter.

Akhirnya si klien datang. berbasa-basi sebentar, si klien langsung masuk ke topik bahasan utama yaitu konsultasi keuangan beliau. Mungkin karena hitungan biaya konsultasinya per jam, beliau tidak mau menyia-nyiakan waktu untuk basa basi yang tidak perlu :-)

Konsultasi selesai sekitar 2.5 jam dan kemudian kami pun kembali ke pembicaraan santai. Sejak awal saya tertarik dengan jam tangan yang dipakai si klien. Simpel, unik dan terlihat mahal. Ternyata jam tersebut adalah jam tahun 40-an dengan merk yang cukup bonafid dan masih terawat dengan sempurna.

Ya, si klien adalah seorang kolektor jam. Dan dengan bangga dia mengatakan bahwa ia juga berinvestasi di barang koleksinya.

INVESTASI BARANG KOLEKSI

Mungkin cerita di atas sudah biasa Anda dengar. bahkan mungkin Anda juga sering melihat bagaimana tiba-tiba seseorang menjadi kaget setelah lukisan peninggalan kakek buyutnya ternyata di tawar orang dengan harga selangit. Atau Anda mungkin juga pernah mengalami bagaimana seseorang menyalahkan Anda karena menjual barang yang menurut Anda adalah barang [removed][removed] rongsokan dan ternyata menurut teman Anda adalah barang koleksi yang bernilai tinggi.

Memang berinvestasi di barang koleksi tidak mudah. Banyak sekali kriteria yang menentukan suatu barang bisa dikatakan sebagai barang koleksi. Namun dengan banyaknya kriteria itulah juga yang membuat tidak ada aturan baku bahwa suatu barang bisa menjadi barang koleksi atau bukan.

Beberapa barang mungkin menjadi barang koleksi karena sudah tua, beberapa lagi karena sejarahnya,tapi ada juga yang menjadi koleksi karena bentuknya dan sebagainya. jadi tidak ada yang baku di dunia koleksi.

Seperti klien dokter saya di atas. Untuk beliau, jam tangan dengan merk R tersebut dengan desain yang lama dan usia yang juga sudah cukup tua merupakan investasi bagi dia. Padahal dia membelinya dari seorang pasiennya yang sudah tidak lagi membutuhkan jam tersebut karena sudah beberapa tahun hanya tergeletak ?sukses' di rak barang tak tersentuh.

Namun kenapa si dokter mau tetap membeli jam tersebut walaupun di tempat si pasien sudah tidak terpakai ? pertama karena si dokter kebetulan memang hobby dengan sesuatu yang berbau ?tua? dan yang lebih penting, dia tahu bahwa jam tersebut memang adalah barang langka yang bisa menjadi barang koleksi plus investasi.

BAGAIMANA MENENTUKANNYA ?

Tidak semua orang bisa menentukan suatu barang adalah barang koleksi (dan kemudian bisa menjadi barang investasi) atau setidaknya bisa meramalkan bahwa barang tersebut nantinya bisa menjadi barang investasi. Sebab harus diakui, semua barang bisa dijadikan sebagai barang koleksi tapi tidak semua barang bisa menjadi barang investasi.

Bila kita membuka sedikit saja lembaran koran beberapa bulan lalu, maka kita akan terheran-heran bagaimana mungkin sebuah pohon tanpa bunga yang bernama anthurium bisa terjual seharga puluhan juta rupiah. Dan mungkin Anda akan bingung bila melihat seseorang yang dengan bangganya mengatakan bahwa ia berhasil mendapatkan sebuah kartu permainan dengan hanya mengorbankan beberapa juta rupiah. Ya hanya untuk sebuah kartu permainan.

Untuk menentukan suatu barang bisa dijadikan barang koleksi sebenarnya sangat mudah. Kunci utamanya adalah pada komunitas. Bila Anda berencana untuk mengkoleksi sesuatu dan kemudian ingin meng-seriuskan-nya menjadi suatu sarana investasi, saran saya bergabunglah di komunitas barang tersebut. Si dokter klien saya melakukannya. Dia tergabung pada salah satu komunitas jam tua. Dan pengetahuan akan jam tua apa yang layak menjadi koleksi dan tentu saja berapa nilainya juga diperoleh dari komunitas itu. Sehingga ia bisa menentukan dengan pasti jam apa yang bisa dijadikan sekedar koleksi oleh beliau dan jam apa yang bisa menjadi investasi. Apa bedanya ? ini semua berhungan dengan pengorbanan yang harus kita lakukan. Untuk barang yang sekedar koleksi dan tidak bisa untuk investasi, maka seharusnya kita tidak berkorban terlalu besar. Sebaliknya, untuk barang yang bisa dijadikan koleksi plus investasi, kita memang harus mengeluarkan pengorbanan yang lebih besar. Tapi tentu saja dengan perhitungan hasil investasi yang harus lebih tinggi nantinya.

KELEBIHAN DAN KEKURANGAN

Berinvestasi di barang koleksi memang mengasyikkan apalagi bila hal tersebut kita kaitkan dengan hobby. Jadi hobby jalan, koleksi bertambah, investasi pun tumbuh. Namun untuk Anda yang tertarik, perhatikan hal-hal ini. Berinvestasi di koleksi memang memberikan potensi hasil yang tinggi karena biasanya seseorang menginginkan barang tersebut bukan karena fisiknya tapi ?nilai? barang tersebut misalnya usia, kelangkaan, dan sebagainya. Sehingga sering kali harga diukur berdasarkan hal-hal yang tidak bisa diukur tersebut. Tapi dibalik nikmatnya potensi hasil tinggi tersebut, investasi barang koleksi tidak likuid karena tidak semua orang menghargai barang dari nilai tapi dari kegunaan dan fungsinya. Seperti si klien, dengan bangga menceritakan bahwa koleksinya pernah ditawar oleh sesama anggota komunitas dengan harga di atas 30 juta; namun di mata saya jam tersebut tidak lebih dari [removed][removed] 2 Juta.Siapa yang salah ? tidak ada. Kami memandang jam tersebut dari sudut berbeda.

Selamat Berkoleksi